Baiklah, ini dia, kisah dracin absurd dengan sentuhan futuristik, romantis, dan sedikit… *mematikan*: **Kau Memelukku di Dunia Ini, Tanpa Tahu Aku yang Membunuhmu Dulu** Layar ponselku berkedip. Jam menunjukkan 03:03. Notifikasi dari aplikasi kencan *QuantumLove*—aplikasi yang menjanjikan jodoh lintas dimensi—muncul dengan liar. Nama itu lagi: "Xing." Aku, Anya, hidup di Neo-Jakarta tahun 2247. Langit selalu abu-abu, makanan sintetis terasa seperti janji palsu, dan cinta… cinta adalah algoritma yang rumit. Aku mencari Xing di tengah kekacauan ini, berharap menemukan sesuatu yang *asli*. Chat kami selalu terputus. Sinyal hilang di tengah kalimat, meninggalkan aku terpaku pada tiga titik abu-abu yang tak berujung: *sedang mengetik…*. Aku membayangkan Xing, jari-jarinya yang lentik menari di atas keyboard virtual, mencoba menjangkauku melintasi ruang dan waktu. "Anya," pesannya suatu hari, tiba-tiba. "Aku melihat bunga sakura mekar di taman. Warnanya… *merah muda*. Apakah kau tahu warna merah muda?" Bagiku, merah muda hanyalah kode warna dalam database. Bunga sakura hanya ada di buku-buku sejarah. Xing hidup di masa lalu, mungkin abad ke-21, di dunia yang aku hanya bisa bayangkan. Kami bertukar cerita. Aku menceritakan tentang gedung-gedung pencakar langit yang menembus awan beracun, tentang burung-burung robot yang bernyanyi dengan suara digital. Dia menceritakan tentang matahari terbit yang menghangatkan kulit, tentang hujan yang membasahi bumi, tentang… *kebebasan*. Aku jatuh cinta pada suara di balik pesan-pesan yang patah itu. Aku jatuh cinta pada dunia yang *hilang*. Suatu malam, aku mendapat panggilan video. Sinyal sangat buruk, gambar Xing terdistorsi menjadi piksel-piksel yang bergerak-gerak. Tapi aku bisa melihatnya. Rambutnya hitam legam, matanya seperti bintang jatuh. "Anya," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku… aku merasa aneh. Seolah-olah aku hidup dalam mimpi… atau kenangan." Kemudian, layar menjadi gelap. Aku panik. Aku mencoba menelepon lagi, mengirim pesan tanpa henti. Tidak ada jawaban. *QuantumLove* memberi tahu bahwa koneksi kami telah hilang secara permanen. Aku memutuskan untuk mencari Xing secara *fisik*. Aku menggunakan teknologi teleportasi ilegal—berbahaya, mahal, dan nyaris mustahil—untuk melompat ke masa lalu. Tujuanku: Beijing, tahun 2023. Lokasi terakhir Xing mengirim pesan. Beijing yang aku temukan adalah keajaiban. Langit biru, pepohonan rindang, orang-orang tertawa. Aku merasa seperti penjelajah dari dunia yang mati. Aku menemukan taman yang Xing ceritakan. Di sana, di bawah pohon sakura yang bermekaran, aku melihatnya. Xing yang *nyata*. Dia tersenyum padaku, senyum yang aku hanya lihat dalam piksel buram. Dia mengenakan jaket kulit hitam dan celana jeans robek, seperti karakter dalam film lama. "Anya," katanya, seolah-olah dia sudah mengenalku seumur hidup. "Aku menunggumu." Kami berpelukan. Hangat, nyata, sempurna. Tapi kemudian… sebuah kilasan ingatan menghantamku seperti palu godam. Sebuah penglihatan tentang aku, Anya dari masa depan, memegang pisau, berdiri di atas tubuh Xing yang terkapar di tanah. *Aku* yang membunuhnya. Di masa lalu. Entah bagaimana, dalam kekacauan perjalanan waktu, aku telah menciptakan paradoks yang mengerikan. Xing memelukku erat. "Aku tahu," bisiknya. "Aku tahu kau akan datang. Aku tahu apa yang kau lakukan." Matanya berkaca-kaca. Sebuah senyum sedih menghiasi bibirnya. "Ini adalah *takdir* kita, Anya. Untuk saling mencintai dan saling membunuh. Berulang kali. Selamanya." Pelukannya mengencang. Aku merasakan sakit yang tajam di punggungku. Dia membalas dendam. Paradoks selesai. Sebelum kegelapan menelanku, aku mendengar suara Xing, jauh dan lirih: "Semoga kita bertemu… di *kehidupan* selanjutnya…"
You Might Also Like: 0895403292432 Agen Kosmetik Bisnis
Share on Facebook