Baiklah, inilah kisah puitis bergaya dracin klasik yang Anda minta: **Bayangan yang Menjadi Doa Setiap Malam** Kabut violet menyelimuti Danau Bulan Sabit, serupa mimpi yang terjalin di antara benang sutra malam. Di sana, di atas perahu kertas yang rapuh, Li Wei melukis. Bukan lukisan gunung atau bunga plum, melainkan *bayangan* seorang wanita. Wajahnya samar, senyumnya *hantu*, namun matanya… mata itu adalah **SAJAK** dari bintang jatuh. Setiap malam, Li Wei melukis, dan setiap malam, wanita itu hadir dalam mimpinya. Dia mengenakan gaun *qipao* berwarna nila, rambutnya tergerai bagai air terjun tinta. Mereka berdansa di taman bunga persik yang tak pernah layu, berbagi cerita tentang masa lalu yang tak pernah mereka jalani bersama. "Siapakah kau?" bisik Li Wei dalam mimpinya, suaranya bagai gemerisik daun bambu. Wanita itu tersenyum, senyum *rembulan* yang memudar. "Aku adalah doa yang kau panjatkan setiap malam, Li Wei. Aku adalah *elegi* yang kau lukis di atas kanvas hatimu." Hari-hari Li Wei dipenuhi kesunyian. Dia bekerja sebagai kaligrafer di kedai teh usang, menulis aksara yang merangkai harapan bagi para pelintas. Namun, hatinya tertinggal di taman persik, bersama wanita bayangan yang semakin hari semakin terasa nyata. Suatu senja, seorang tetua bijak menghampirinya. "Li Wei," katanya, suaranya serak bagai gesekan batu akik, "Kau mencari sesuatu yang hilang. Sesuatu yang *tak pernah ada*." Li Wei tertegun. "Bagaimana mungkin? Dia… dia adalah bagian dari diriku." Tetua itu tersenyum pahit. "Dulu, di desa ini, ada seorang putri yang sangat cantik. Dia mencintai seorang pelukis muda, namun cinta mereka terhalang tembok kasta. Putri itu meninggal karena penyakit misterius, lukisan pelukis itu hancur terbakar. Konon, arwah putri itu *terperangkap* dalam lukisan yang tak pernah selesai." Li Wei merasakan dadanya sesak. Dia berlari ke rumahnya, meraih lukisan bayangan wanita itu. Dengan tangan gemetar, dia menyobek lukisan itu menjadi serpihan-serpihan kecil. Saat serpihan terakhir jatuh ke tanah, di hadapannya, berdiri seorang wanita. Wajahnya persis seperti dalam lukisan, namun kali ini, air mata mengalir di pipinya. "Li Wei," bisiknya, suaranya *nyata*, namun memilukan. "Kau membebaskanku. Namun, kau juga… *membunuhku*." Wanita itu perlahan memudar, kembali menjadi kabut violet yang menyelimuti malam. Li Wei berlutut di lantai, serpihan-serpihan lukisan itu bagai pecahan hatinya. Misteri terpecahkan, namun keindahannya justru menjelma menjadi *duri* yang menghujam jiwa. Satu malam, Li Wei kembali melukis. Bukan bayangan, bukan doa, melainkan *kesunyian*. Dia melukis dan melukis, sampai tangannya berdarah, sampai ingatannya pudar. …Apakah kau ingat janji kita di bawah pohon sakura yang mekar sempurna itu?
You Might Also Like: 178 Perbedaan Paket Skincare Lokal
Share on Facebook