Baiklah, inilah Dracin modern berjudul "Kau Menatapku Tanpa Bicara, dan Aku Tahu Cinta Belum Berakhir," ditulis dalam gaya bahasa puitis modern: **Kau Menatapku Tanpa Bicara, dan Aku Tahu Cinta Belum Berakhir** Hujan kota mencambuk jendela apartemenku, ritmenya serupa denting notifikasi yang dulu kurindukan. Sekarang, hanya ada sunyi. Sunyi yang menusuk, seperti jarum es yang disuntikkan langsung ke jantung. Aroma kopi mengepul dari cangkir, mengingatkanku pada pagi-pagi kita, aroma yang sama kini terasa pahit. Kau. Sosokmu masih membayangi setiap sudut layar ponselku. Foto-foto kita, tersimpan rapi dalam folder tersembunyi. Sisa-sisa *chat* yang tak terkirim, kalimat-kalimat yang menggantung di udara, pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab. Dulu, notifikasi darimu adalah melodi terindah. Sekarang, getar ponselku hanya menyisakan _nyeri_. Kita bertemu di dunia yang serba digital. Cinta kita tumbuh di antara emoji dan _likes_. Kau, seorang *gamer* dengan tatapan teduh di balik kacamata. Aku, seorang penulis yang tersihir oleh senyummu yang jarang kau perlihatkan. Kita membangun dunia kita sendiri, dunia yang terasa aman dan nyaman. Namun, dunia itu runtuh. Tanpa penjelasan, kau menghilang. Nomor ponselmu tak aktif. Akun media sosialmu lenyap. Kau seperti hantu yang menguap ditelan kabut digital. Aku mencari. Aku bertanya. Tapi, tak ada jawaban. Hanya _kehilangan_ yang samar, perasaan bahwa ada yang belum selesai, sebuah misteri yang membungkamku. Mimpi. Aku selalu bermimpi tentangmu. Mimpi tentang tatapanmu yang dulu memancarkan cinta, kini dipenuhi _keterasingan_. Dalam mimpi itu, kau selalu menatapku tanpa bicara. Dan di balik tatapan itu, aku tahu, **CINTA BELUM BERAKHIR**. Aku terus mencari celah dalam kenangan. Mencari petunjuk dalam sisa-sisa percakapan kita. Akhirnya, aku menemukannya. Sebuah pesan tersembunyi dalam sebuah _screenshot_, sebuah alamat _website_ yang kau sembunyikan di balik sebuah _emoji_. Di _website_ itu, aku menemukan rahasiamu. Rahasia yang selama ini kau sembunyikan dariku. Rahasia yang menjelaskan mengapa kau menghilang. Rahasia yang… menghancurkanku. Kau sakit. Sakit parah. Dan kau memilih untuk menjauh, agar aku tak melihatmu menderita. Kau memilih _kesunyian_ agar aku tak merasakan *sakit* yang kau alami. Kemarahan membara dalam dadaku. Bukan kemarahan padamu, tapi pada diriku sendiri. Mengapa aku tak menyadarinya? Mengapa aku begitu bodoh? Aku merencanakan balas dendam. Bukan balas dendam yang kejam, tapi balas dendam yang lembut. Balas dendam yang akan membuatmu menyesal telah meninggalkanku. Aku menemuimu. Kau terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tatapanmu kosong, tapi saat melihatku, ada setitik cahaya di matamu. Aku tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang penuh cinta, senyum yang penuh _penyesalan_. Aku membisikkan sebuah pesan terakhir di telingamu. Pesan yang tak akan pernah kau lupakan. Pesan yang akan menghantuimu selamanya. Aku meninggalkanmu. Tanpa kata. Aku tahu, kau akan menyesal. Aku tahu, kau akan merindukanku. Dan aku tahu, cintamu padaku *tidak* akan pernah berakhir. **Pesan Terakhirku:** "Kau pikir dengan menghilang, kau melindungiku? Kau salah. Kau hanya meninggalkanku dengan _luka_ yang tak akan pernah sembuh. Dan sekarang, kau harus hidup dengan _penyesalan_ itu." Aku berbalik. Meninggalkanmu selamanya. Dan di balik punggungku, aku tahu, kau menatapku. Menatapku tanpa bicara. Dan aku tahu, cinta belum berakhir. Tapi *ini* sudah berakhir. … atau belum?
You Might Also Like: Top Senyum Yang Menyimpan Nama Musuh
Share on Facebook