FULL DRAMA! Kau Menatapku Tanpa Takut, Padahal Semua Orang Menunduk Di Hadapanku
Kabut ungu menyelimuti Kota Terlarang, serapuh mimpi yang baru saja terajut. Di tengah hamparan atap emas yang berkilauan, kau muncul bagai kuncup lotus pertama yang merekah di musim dingin. Semua orang menunduk, membungkuk dalam ketakutan dan hormat, kecuali kau.
Matamu, dua bintang jatuh yang berani menantang langit, menatapku tanpa gentar. Aku, Kaisar Agung yang menguasai daratan dan lautan, merasa gemetar di bawah tatapan itu.
Setiap gerakmu adalah tarian anggrek di tengah badai. Setiap bisikanmu adalah melodi kecapi yang menghancurkan tembok istana. Aku terperangkap dalam labirin pandangmu, tersesat dalam galaksi senyummu yang terlarang.
Apakah ini nyata? Ataukah hanya pantulan di danau yang memalsukan kebenaran? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa kehadiranmu adalah oase di padang pasir hatiku.
Malam-malam berlalu, dihiasi rembulan yang bersembunyi di balik awan. Kita bertemu di taman rahasia, di bawah pohon persik yang bunganya gugur seperti salju di musim semi. Kata-kata kita seperti lukisan kaligrafi yang terukir di jantung jiwa.
Kau bercerita tentang desa terpencil di kaki gunung, tentang sungai jernih yang membelah sawah, tentang kebebasan yang tak bisa kubeli dengan seluruh harta kerajaanku. Aku, Kaisar yang terkurung dalam sangkar emas, mendambakan kebebasan itu bersamamu.
Suatu malam, di bawah kilauan bintang yang tak terhitung jumlahnya, kau menggenggam tanganku. Sentuhanmu membakar seluruh jiwa ragaku. Lalu, kau berbisik: "Aku adalah bayanganmu, Kaisar. Aku adalah refleksi dari keinginan terpendammu. Aku ada, karena kau menciptakanku."
Kata-kata itu menghantamku seperti sambaran petir. KEBENARAN yang selama ini tersembunyi akhirnya terungkap. Kau bukan nyata. Kau adalah ilusi, fantasi yang kubangun untuk melarikan diri dari kenyataan yang kejam.
Keindahanmu, keberanianmu, cintamu… semuanya adalah proyeksi dari hatiku yang kesepian.
Tapi, mengetahui kebenaran ini, tidak membuat cintaku padam. Justru, luka itu semakin menganga. Karena aku tahu, aku tidak akan pernah bisa memiliki dirimu yang hanya ada di dalam mimpiku.
Dan kemudian, kau menghilang, kembali menjadi kabut pagi yang melenyap ditelan mentari.
"... Apakah kau masih mengingatku, walau hanya dalam mimpi?"
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Bimbingan Bisnis