Drama Abiss! Aku Tersenyum Di Atas Luka, Karena Itu Satu-satunya Yang Tersisa
(Judul Alternatif: Hujan di Layar Ponsel)
Hujan Jakarta mengguyur malam itu, sama derasnya dengan air mata yang kutahan. Aroma kopi robusta memenuhi apartemen studio-ku, aromanya pahit sama seperti sisa percakapan kita di WeChat. Unsent messages. Pesan yang tak terkirim, monumen bisu dari semua yang ingin kuucapkan, tapi tak pernah bisa.
Kita bertemu di sebuah forum online, membicarakan film indie dan puisi Chairil Anwar. Kamu, dengan avatar siluet di bawah rembulan, menyebut dirimu "Senja". Aku, dengan foto blur jalanan kota, membalasmu dengan "Fajar". Pertemuan digital yang canggung, lalu tiba-tiba terasa dekat.
Senja dan Fajar. Romantis sekali, bukan?
Cinta kita tumbuh di antara notifikasi, likes, dan komentar. Kencan pertama di kedai kopi langganan, aroma hujan membasahi jalanan, dan tatapan mata yang... jujur, aku tidak ingat. Yang kuingat adalah rasa aman yang absurd. Seolah aku mengenalmu seumur hidup.
Tapi kemudian, Senja menghilang.
Tanpa jejak. Tanpa kata. Hanya profil WeChat yang tiba-tiba kosong, dan mimpi-mimpi yang menggantung di langit-langit kamarku.
Aku mencoba melacakmu. Mencari jejak digitalmu di forum-forum lama. Menjelajahi setiap sudut kota yang pernah kita kunjungi. Nihil. Tidak ada. Seolah kamu hanya ilusi, potongan mimpi buruk yang terlalu indah untuk dilupakan.
Orang bilang, move on. Hapus foto-foto. Blokir nomor telepon. Buang semua kenangan.
Tapi bagaimana caranya menghapus aroma kopi yang kamu sukai? Bagaimana caranya memblokir lagu indie yang dulu sering kita dengarkan bersama? Bagaimana caranya membuang mimpi-mimpi yang sudah terlanjur tumbuh di hatiku?
Lalu, satu malam, aku menemukan dia.
Dia, wanita yang sangat mirip dengan avatar Senja. Wanita yang duduk sendirian di kedai kopi langganan, menatap hujan dengan tatapan kosong yang sama. Wanita yang... memakai kalung dengan liontin rembulan yang sama persis dengan yang pernah kulihat di foto profilmu yang sudah dihapus.
Aku memberanikan diri mendekat.
"Senja?" tanyaku, suara tercekat.
Dia menoleh. Matanya berkilat bingung, lalu... mengenali sesuatu di dalam diriku.
"Maaf," katanya, suaranya serak. "Kamu pasti salah orang."
Tapi aku tahu. Aku tahu.
Rahasia yang selama ini kamu simpan, terkuak dalam tatapanmu yang panik. Kamu bukan menghilang. Kamu bersembunyi. Menyembunyikan identitasmu. Menyembunyikan... kebenaran tentang dirimu.
Ternyata, Senja adalah istri orang.
ISTRI ORANG!
Api amarah membakar dadaku. Sakit hati menggerogoti jiwaku. Tapi di tengah kekacauan itu, sebuah ide muncul. Sebuah balas dendam lembut.
Aku mengeluarkan ponselku. Mengetik sebuah pesan di WeChat, lalu mengirimkannya ke nomor yang sudah lama tidak aktif.
Kepada Senja:
Aku tahu. Aku tahu semuanya.
Jangan khawatir. Aku tidak akan menghancurkan pernikahanmu. Aku tidak akan merusak hidupmu.
Aku hanya ingin kamu tahu... aku tersenyum di atas luka. Karena itu satu-satunya yang tersisa.
Terima kasih untuk ilusi yang indah. Dan selamat tinggal.
Aku menghapus nomornya dari daftar kontakku. Menutup aplikasi WeChat. Lalu berjalan keluar dari kedai kopi, menembus hujan Jakarta.
Tidak ada air mata. Tidak ada amarah. Hanya senyum. Senyum pahit, senyum kemenangan, senyum perpisahan.
Aku memutuskan untuk pindah dari Jakarta. Memulai hidup baru. Menemukan cinta yang baru.
Tapi sebelum pergi, aku mengirimkan satu gift terakhir untuk Senja di WeChat. Sebuah lagu indie berjudul "Hujan di Layar Ponsel".
Tidak ada pesan tambahan.
Hanya itu.
Dia tidak pernah membalas.
Dan aku, berdiri di stasiun kereta api, menatap kereta yang membawaku pergi...
...Apakah dia akan mendengarkan lagunya?
You Might Also Like: 90 Well Exploration Stock Photos Images