Cerpen Terbaru: Kau Berlutut Di Kuburanku, Tapi Aku Sudah Memaafkanmu Sejak Dulu
Kau Berlutut di Kuburanku, Tapi Aku Sudah Memaafkanmu Sejak Dulu
Kabut putih pucat menggantung di lereng Gunung Taihang, menyelimuti jalan setapak yang licin dengan lumut. Lorong istana yang dulu ramai kini lengang, hanya gemerisik sutra jubah yang terseret di atas lantai marmer dingin yang menemani langkahnya. Dia kembali. Setelah sepuluh tahun dianggap mati.
Wajahnya, yang dulu dikenal karena kecantikannya yang memikat, kini tersembunyi di balik kerudung tebal. Hanya sepasang mata tajam yang mengintip, menatap nisan di depannya. Nisan yang bertuliskan namanya sendiri: Bai Lian.
Di hadapan nisan itu, seorang pria berlutut. Kaisar Zhao, penguasa yang dulu merenggut nyawanya – begitulah yang orang-orang percayai. Bahunya bergetar menahan isak.
Bai Lian mendekat, suaranya bagai desiran angin di antara bambu. "Kaisar Zhao, apa yang kau cari di sini?"
Kaisar itu mendongak, wajahnya basah oleh air mata. "Lian'er… apakah itu kau? Aku… aku bersalah. Aku tidak seharusnya mempercayai mereka. Aku…"
Bai Lian tersenyum tipis. "Kau mempercayai mereka? Atau kau memang ingin mempercaya mereka? Bukankah lebih mudah menyalahkan orang lain daripada mengakui kelemahanmu sendiri?"
Lorong istana terasa semakin dingin. Udara terasa berat, dipenuhi aroma dupa dan penyesalan yang menguar dari sosok Kaisar.
"Aku… aku mencintaimu, Lian'er. Aku tidak pernah ingin menyakitimu."
"Cinta? Cinta itu lemah. Cinta bisa dimanipulasi, bisa dibutakan. Seperti yang terjadi padamu," bisik Bai Lian. Dia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Kaisar. Sentuhan yang dulu dirindukan, kini terasa membeku.
"Sepuluh tahun aku menunggu. Menunggu saat yang tepat. Menunggu agar kau merasakan penyesalan yang kurasakan."
Kaisar Zhao menatapnya dengan bingung. "Penyesalan? Tapi… kau adalah korbannya!"
Bai Lian tertawa, suara yang mengerikan di tengah kesunyian istana. "Korban? Oh, Kaisar Zhao, kau selalu salah. Aku tidak pernah menjadi korban. Aku selalu memegang kendali. Bahkan, kematianku pun adalah bagian dari rencanaku."
Dia membuka kerudungnya. Wajahnya, meski diwarnai bekas luka samar, memancarkan kekuatan yang menakutkan.
"Kau melihat nisan itu? Itu bukan makamku. Itu adalah makam kebodohanmu."
Kaisar Zhao terhuyung mundur, matanya memancarkan ketakutan. Dia baru menyadari, dia telah menjadi pion dalam permainan yang rumit, yang dirancang oleh wanita yang dicintainya.
Bai Lian mendekat, membungkuk, dan berbisik di telinga Kaisar:
"Kau berlutut di kuburanku, Kaisar. Tapi aku sudah memaafkanmu sejak dulu… karena semua ini memang salahmu sejak awal."
Dan Kaisar Zhao terdiam. TERDIAM SELAMANYA.
You Might Also Like: Cari Skincare Aman Ini Dia Yang Teruji