Baik, inilah kisah dracin pendek dengan judul "Ia Datang Saat Aku Sudah Tak Percaya pada Kehidupan," sesuai permintaan Anda: **Ia Datang Saat Aku Sudah Tak Percaya pada Kehidupan** Kabut lavender menyelimuti Danau Bulan Sabit. Di tepi danau itu, aku, Lin Wei, duduk memeluk lutut. Hidupku hancur. Karierku runtuh. Cinta yang kubangun berdarah-darah, dikhianati. Aku sudah tak punya apa-apa, tak percaya pada apa pun. Lalu, ia datang. Xiao Yi. Tatapannya lembut seperti cahaya bulan, namun menyimpan kedalaman samudra. Ia seorang pelukis, hidup mengasingkan diri di gubuk reyot dekat danau. Ia bicara tentang warna yang tak terlihat, tentang melodi yang tak terdengar. Awalnya, aku sinis. Tapi, suaranya, entah kenapa, terasa *familiar*. Setiap lukisannya terasa seperti potongan ingatan yang hilang. Bangunan kuno dengan atap melengkung, taman bunga terlarang dengan aroma memabukkan, dan seorang wanita anggun yang menatapku dengan mata penuh luka. Semakin sering aku menatap lukisannya, semakin kuat rasa sakit di dadaku. Mimpi-mimpi aneh mulai menghantuiku. Aku melihat diriku dalam balutan gaun sutra merah, berjalan di antara prajurit bersenjata lengkap. Aku adalah *Putri Mahkota Lin Yue*, tunangan Jenderal agung yang dicintai rakyat, tapi di malam pertunangan, aku dijebak dan dituduh berkhianat. Aku dieksekusi di alun-alun kota, di depan mata rakyat yang dulu memujaku. Ingatan itu datang bagai pecahan kaca yang menusuk. Jenderal itu... wajahnya samar, tapi senyumnya, liciknya... itu sama dengan senyum kekasihku di kehidupan ini. *Wang Jun*. Xiao Yi selalu ada di sisiku saat aku tersiksa oleh ingatan itu. Ia menatapku dengan *simpati* yang tak terhingga, seolah ia tahu segalanya. Suatu malam, di bawah cahaya rembulan, ia berkata, "Lin Wei, tak semua luka harus dibalas dengan darah. Kadang, membiarkan mereka menyaksikan kebahagiaanmu adalah hukuman terberat." Aku mengerti. Balas dendamku bukan dengan menuntut nyawa Wang Jun. Balas dendamku adalah *memilih* kebahagiaanku sendiri. Aku memilih Xiao Yi, pria yang datang saat aku sudah tak percaya pada kehidupan. Aku memilih melukis bersamanya, membangun dunia baru di atas puing-puing masa lalu. Aku meninggalkan kota, meninggalkan Wang Jun dengan kesuksesan palsunya. Aku memilih hidup sederhana, namun penuh cinta. Saat kami berdiri di tepi danau, menatap pantulan rembulan, Xiao Yi berbisik, "Sudah waktunya." Aku tahu apa maksudnya. Aku ingat semuanya. Ia bukan hanya seorang pelukis. Ia adalah... *kasim* yang diam-diam mencintaiku di kehidupan lampau, yang mencoba menyelamatkanku, namun terlambat. Ia berjanji akan menemukanku, di kehidupan mana pun, untuk melindungiku. Aku tersenyum. "Aku tahu." Kami berbalik, meninggalkan danau, meninggalkan masa lalu. Saat pintu gubuk menutup di belakang kami, aku tahu, perjalanan yang *sesungguhnya* baru saja dimulai, dan di suatu tempat, di alam baka sana, janji itu masih bergema, menunggu ditepati… **SELANJUTNYA!!!**
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Jualan Kosmetik
Share on Facebook