Dracin Seru: Kau Berjalan Menjauh, Tapi Bayanganmu Masih Menempel Di Jantungku
Hujan di atas makam itu seperti bisikan tak terucap. Rintiknya jatuh, membasahi nisan dengan nama Lin Wei. Nama yang dulu kurangkai dalam doa-doa panjang, kini terukir dingin di batu. Di sanalah, di balik tabir tipis antara dunia yang terlihat dan dunia yang tersembunyi, aku berdiri. Aku, bayangan Lin Wei yang menolak pergi.
Dulu, aku pergi tanpa mengucapkan Kebenaran. Kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, terjebak dalam labirin ketakutan dan keraguan. Sekarang, aku kembali, bukan sebagai manusia, melainkan sebagai gema dari keberadaanku yang dulu.
Dunia ini terasa asing sekaligus familier. Aku bisa melihat mereka, orang-orang yang hidup, merasakan kesedihan mereka, namun terhalang oleh dinding tak kasatmata. Aku ingin menyentuh pipi Ibu, menghapus air mata Ayah, memeluk Xiao Mei, adik perempuanku yang kehilangan senyumnya. Tapi aku hanya bisa mengambang, menjadi sakralisme yang sunyi.
Aku mencari petunjuk, menelusuri kembali jejak-jejakku di dunia. Setiap sudut rumah, setiap bangku taman, setiap tempat yang pernah kurindukan, menyimpan fragmen kenangan. Kenangan tentang senyumnya, sentuhannya, bisikan-bisikannya. Zhang Wei. Namanya menyengat seperti racun. Dialah alasan kepergianku. Dialah alasan kata-kata itu tertahan.
Aku melihatnya, Zhang Wei, hidup dengan bebas, tanpa beban, tanpa penyesalan. Amarah membara dalam wujudku yang rapuh. Aku ingin meneriakkan ketidakadilan, menuntut pertanggungjawaban. Namun, sesuatu menahanku. Ingatan tentang senyumnya yang tulus, tentang sentuhan lembutnya, tentang mimpi-mimpi yang kami rajut bersama sebelum semuanya HANCUR.
Semakin aku mencari, semakin aku menyadari. Bukan balas dendam yang kubutuhkan. Bukan hukuman untuknya yang kuinginkan. Melainkan… kedamaian. Kedamaian untuk diriku sendiri, untuk keluargaku, bahkan untuk Zhang Wei. Kedamaian agar aku bisa benar-benar pergi, tanpa beban, tanpa penyesalan.
Aku menemukan surat itu, tersembunyi di balik bingkai foto di kamarku. Surat yang belum sempat kukirimkan. Surat yang berisi semua kebenaran yang ingin kuungkapkan. Surat yang menjelaskan semuanya.
Aku membimbing Xiao Mei, secara tidak sadar, menuju surat itu. Aku membisikkan petunjuk-petunjuk halus, mengarahkan pandangannya. Akhirnya, dia menemukannya. Air mata membasahi pipinya saat membaca kata demi kata.
Keesokan harinya, aku melihat Zhang Wei datang ke makamku. Dia membawa bunga lili putih, bunga kesukaanku. Dia berlutut, menundukkan kepala. Xiao Mei berdiri di belakangnya, menyerahkan surat itu.
Aku melihat Zhang Wei membaca surat itu, air matanya jatuh membasahi tanah. Aku melihat penyesalan yang tulus di matanya. Aku melihat kehancurannya.
Di saat itulah, aku merasakan kedamaian itu. Bukan kedamaian karena dendam terbalaskan, melainkan kedamaian karena kebenaran terungkap. Kedamaian karena aku akhirnya bisa melepaskan.
Bayanganku mulai memudar, semakin menipis, semakin transparan. Aku bisa merasakan tarikan dari dunia lain, dunia tempatku seharusnya berada. Aku menoleh ke belakang, menatap sekali lagi makamku, keluargaku, Zhang Wei. Aku merasakan kelegaan yang SANGAT DALAM.
Aku tersenyum.
…Akhirnya, aku bebas.
You Might Also Like: Jualan Kosmetik Penghasilan Tambahan