Dracin Terbaru: Takhta Yang Retak Oleh Doa Terakhir
Hujan menggigil malam itu, persis seperti hatiku. Istana Gading terasa sunyi, hanya gemericik air yang menampar atap genting dan deru angin yang menyelinap di antara pilar-pilar tinggi. Aku berdiri di balkon, kain sutra di pundakku terasa tipis melawan dingin. Di bawah sana, di halaman berkerikil yang basah, berdiri dia. Kaisar. Dulu, Kekasihku. Sekarang, duri di nadiku.
Li Yu.
Bayangannya patah oleh genangan air, seolah mencerminkan jiwanya yang terpecah belah. Dulu, aku melihat bintang di matanya. Sekarang, hanya ada kebencian yang membeku.
Dulu, tangannya akan menggenggam tanganku, hangat dan pasti. Sekarang, tangannya memerintah jutaan nyawa, termasuk nyawaku.
Dulu, bisikannya adalah janji abadi. Sekarang, kata-katanya adalah dekrit kematian.
Aku memejamkan mata, menghirup udara basah yang pahit. Aroma melati dari taman istana bercampur dengan bau tanah dan lumpur, sebuah perpaduan yang anehnya melambangkan perasaanku. Indah dan busuk.
Aku ingat malam itu. Malam pengkhianatan. Malam ketika Li Yu memilih takhta daripada aku. Malam ketika dia menikahi Putri Wei, aliansi politik yang menyelamatkan kerajaannya, dan menghancurkan hatiku.
Lentera di tanganku nyaris padam, cahayanya berkedip-kedip. Aku membiarkannya mati perlahan, seperti cintaku.
Sudah sepuluh tahun. Sepuluh tahun aku hidup dalam bayang-bayangnya, sebagai Selir Terbuang, sebagai Saksi Bisu dari kebahagiaannya yang dibangun di atas puing-puing hatiku. Sepuluh tahun aku menahan air mata, menelan amarah, dan merajut rencana.
Setiap doa yang kulafalkan, setiap senyum yang kupamerkan, setiap anggukan yang kuucapkan, adalah benang yang kuanyam menjadi jaring. Jaring yang akan menjeratnya. Jaring yang akan membawanya ke kehancuran.
Aku melihatnya mengangkat kepalanya, mata kami bertemu dalam kegelapan. Sekilas, aku melihat keraguan di sana. Atau mungkin, itu hanya harapanku.
Aku tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak mencapai mata. Sebuah senyum yang menyimpan rahasia kelam.
Angin bertiup lebih kencang, membawa aroma hujan yang segar. Aroma kematian.
Aku mengangkat tangan, memberi isyarat padanya. Dia ragu sejenak, lalu melangkah maju. Semakin dekat. Semakin dekat.
"Li Yu," bisikku, suaraku nyaris tertelan deru angin. "Sudah lama."
Dia tidak menjawab. Hanya menatapku, matanya penuh pertanyaan.
Aku mendekat, nyaris menyentuhnya. Di belakangku, di balik pilar-pilar gelap, para algojo menunggu.
"Kamu tahu," bisikku lagi, "Selama ini, aku selalu bertanya-tanya… apakah takhta itu SEPADAN?"
Dia masih diam.
Aku tertawa pelan. Tawa yang kering dan hampa.
"Karena ternyata, Kaisar Li Yu," bisikku, "Takhta yang kau perebutkan itu... dibiayai oleh racun yang kau berikan padaku malam itu. Tapi kau lupa satu hal: penawarnya tidak pernah kau temukan."
Dan saat itulah, dia menyadari: bahwa tahta yang selama ini ia genggam, sebenarnya adalah warisan yang akan kuturunkan padanya, sebuah warisan yang dibeli dengan air mata dan darah, dengan harga... NYAWANYA.
You Might Also Like: Unveiling Blueprint For Eradicating