**Air Mata yang Menjadi Hujan Pertama** Desa Jiǔlián, tersembunyi di balik kabut gunung yang abadi, menyimpan aroma melati yang menyayat hati. Di sana, Li Mei, seorang gadis berumur delapan belas tahun dengan mata sekelam obsidian, hidup dalam kesendirian. Ia memiliki *déjà vu* yang menghantui, kilasan-kilasan adegan yang terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata: jubah sutra merah yang berlumuran darah, tawa yang mencemooh, dan *pohon sakura yang runtuh*. Sejak kecil, ia terobsesi dengan air. Bukan sekadar air, tapi *hujan*. Ia merasa hujan adalah air mata dari masa lalu, dari kehidupan yang ia lupakan. Setiap tetesnya terasa seperti bisikan, memanggil-manggil nama yang tak mampu ia ingat. Suatu hari, seorang pedagang keliling bernama Wang Jun tiba di Jiǔlián. Wang Jun memiliki mata yang aneh, satu berwarna cokelat tua, yang lain berwarna abu-abu kehijauan. Mata itu terasa familier, namun juga menakutkan. Begitu melihat Li Mei, ia tertegun. "Kamu… kamu mirip sekali dengannya," bisiknya, suaranya bergetar. Li Mei merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia merasa ditarik ke arah Wang Jun, namun pada saat yang bersamaan, ia merasa ancaman yang *menusuk*. Melalui percakapan yang lirih di bawah rembulan, Wang Jun bercerita tentang legenda seorang putri bernama Li Hua, yang dikhianati oleh kekasihnya, seorang jenderal bernama Zhang Wei, di bawah pohon sakura yang sedang mekar. Sang jenderal menginginkan tahta, dan sang putri adalah penghalang. Saat Wang Jun mengucapkan nama 'Zhang Wei', ingatan Li Mei meledak bagai kembang api. Ia melihat dirinya sendiri, bukan Li Mei, tapi Li Hua, menjerit kesakitan saat pedang Zhang Wei menembus jantungnya. Ia mengingat *TATAPAN* tanpa penyesalan di mata sang kekasih. *Zhang Wei adalah Wang Jun.* Kenyataan itu menghantam Li Mei bagai badai. Dendam membara di dalam hatinya, namun ia tidak membiarkannya menguasai dirinya. Ia mengerti, balas dendam bukanlah pedang, tapi *keputusan*. Wang Jun (atau Zhang Wei, atau apapun namanya) jatuh cinta pada Li Mei. Ia memohon maaf, mengaku menyesal telah mengkhianati Li Hua. Ia bersumpah akan mencintainya selamanya. Li Mei menatap mata Wang Jun yang penuh harap. Ia melihat kelemahan, penyesalan, dan harapan yang *palsu*. Dengan senyum yang dingin, ia menolak cintanya. "Aku tidak bisa mencintaimu," ucapnya lirih. "Kau adalah bayangan dari masa lalu yang seharusnya kubiarkan berlalu." Wang Jun hancur. Ia meninggalkan Jiǔlián keesokan harinya, berjalan di bawah hujan lebat yang seolah menertawakan kepedihannya. Li Mei berdiri di ambang pintunya, merasakan setiap tetes hujan membasahi wajahnya. Hujan itu terasa berbeda sekarang. Bukan lagi air mata kesedihan, tapi air mata *kebasaran*. Ia telah memilih jalannya sendiri. Ia telah memutuskan takdirnya sendiri. Ia tidak akan terjebak dalam siklus pengkhianatan dan balas dendam. Ia akan membangun hidupnya sendiri. Ia menatap ke arah gunung yang diselimuti kabut. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu… mereka akan bertemu lagi. *Dan saat itu tiba, hujan akan kembali menjadi air mata.*
You Might Also Like: 86 Tutorial Skincare Lokal Dengan

Share on Facebook