Tentu, ini dia kisah pendek bergaya dracin dengan permintaan Anda: **Tangisan yang Mengakhiri Semua Cinta** Hujan gerimis menyambut malam di Shanghai. Di balkon apartemen mewah, Lin Mei berdiri anggun, gaun sutra merah menyala kontras dengan kulit porselennya. Senyum tipis terukir di bibirnya, *senyum yang selama ini menipu banyak orang*, termasuk dirinya sendiri. Di dalam, gemerlap pesta meriah merayakan kesuksesan perusahaan Lin. Tapi mata Lin Mei tertuju pada satu sosok: Zhang Wei, suaminya, sedang tertawa mesra dengan seorang wanita muda, perhiasan yang melingkar di leher wanita itu **jelas** adalah hadiah darinya. Lima tahun. Lima tahun Lin Mei membangun imperium bisnis ini bersama Zhang Wei. Lima tahun dia mencintainya dengan segenap jiwa. *Pelukannya dulu terasa hangat, kini beracun. Janjinya dulu semanis madu, kini setajam belati*. Lin Mei menarik napas dalam. Tidak ada teriakan, tidak ada air mata. Hanya *ketenangan mematikan* yang terpancar dari sorot matanya. Dia sudah lama merencanakan ini. Bukan balas dendam yang gegabah, melainkan kalkulasi dingin yang akan membuat Zhang Wei menyesal seumur hidup. Dia ingat bagaimana Zhang Wei selalu meremehkannya, menganggap kesuksesan Lin Mei hanya keberuntungan semata. Dia ingat bagaimana Zhang Wei secara diam-diam mengalihkan aset perusahaan ke rekening pribadinya. Dia ingat *setiap kebohongan, setiap pengkhianatan*. Lin Mei memasuki ruang pesta dengan anggun. Dia menyapa para tamu dengan senyum manis, lalu menghampiri Zhang Wei. "Selamat atas kesuksesanmu, sayang," ucap Lin Mei, suaranya lembut namun terdengar *mendesis* di telinga Zhang Wei. Zhang Wei tersenyum bangga, merangkul Lin Mei erat. "Semua ini berkat kamu, Mei." Lin Mei membalas pelukan itu, lalu berbisik di telinga Zhang Wei, "Sayang, ada yang ingin kubicarakan berdua." Mereka masuk ke ruang kerja Lin Mei. Di sana, di atas meja, tergeletak berkas-berkas perjanjian dan laporan keuangan yang dicetak tebal. "Apa ini, Mei?" tanya Zhang Wei, gugup. Lin Mei menunjuk ke arah berkas-berkas itu. "Semua bukti pengkhianatanmu, Wei. Aset yang kau curi, wanita simpananmu, kebohonganmu." Wajah Zhang Wei pucat pasi. "Mei, aku bisa jelaskan..." "Tidak perlu," potong Lin Mei. "Semua sudah terlambat. Perusahaan ini sekarang bukan lagi milikmu. Aku sudah menyerahkannya ke yayasan amal atas namaku." Zhang Wei tertegun. Investasi, dedikasinya selama ini **HILANG**. "Kau...kau menghancurkanku!" Lin Mei tersenyum dingin. "Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Tapi *kehancuranmu* adalah efek samping yang menyenangkan." Dia meninggalkan Zhang Wei yang terpaku di ruang kerjanya. Di luar, hujan semakin deras. Lin Mei menatap langit, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata *kemenangan yang pahit*. Beberapa minggu kemudian, Lin Mei membaca berita tentang Zhang Wei yang hidup dalam kemiskinan dan penyesalan. Dia tidak membunuh Zhang Wei, tidak memenjarakannya. Dia hanya mengambil segalanya dari Zhang Wei, meninggalkan pria itu dengan kenangan tentang apa yang telah hilang dan *tidak akan pernah bisa dikembalikan*. Lin Mei menutup mata, merasakan sengatan luka lama di hatinya. Dendamnya sudah terbalas, tapi *cintanya* tidak akan pernah kembali. Lin Mei berbalik, membiarkan masa lalu terkubur di balik punggungnya. Ia pun melangkah maju, meninggalkan penyesalan dan luka. Lin Mei tahu, di kedalaman hatinya, cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama: *keterikatan yang terlalu kuat*.
You Might Also Like: 0895403292432 Jualan Skincare Modal

Share on Facebook