SERU! Aku Menatap Luka Di Dada, Dan Masih Berharap Itu Tanda Cinta
Babak 1: Senyum di Atas Luka
Lampu-lampu kristal menggantung bagai air mata beku di Ballroom Grand Imperial. Gaunku, sutra merah menyala, berputar mengikuti irama waltz. Di seberang ruangan, dia berdiri. Li Wei. Tampan seperti biasa, dengan senyum yang dulu membuat jantungku berdebar. Sekarang? Hanya memicu mual.
Lima tahun. Lima tahun aku mencintainya, menyerahkan segalanya. Perusahaan keluarga, impian menjadi designer, bahkan diriku sendiri. Demi dia. Demi cinta yang dijanjikannya abadi.
Aku mengangkat gelas champagne, menutupi getar di tanganku. Senyumku adalah topeng. Sebuah topeng yang kupelajari dengan sempurna selama beberapa bulan terakhir, sejak aku menemukan foto-foto itu. Dia dan wanita lain.
Dulu, aku akan berlari ke arahnya, memeluknya erat. Sekarang, pelukannya terasa seperti racun yang perlahan menggerogoti.
Babak 2: Belati Bernama Janji
Matanya bertemu mataku. Dia tersenyum, mendekat. "Malam ini kau terlihat sangat cantik, Mei Lian," bisiknya. Suaranya yang dulu kurindukan, kini terdengar hampa.
"Terima kasih, Wei," jawabku lembut.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu," lanjutnya, nada suaranya serius. Jantungku berdebar bukan karena cinta, tapi karena antisipasi. Inilah saatnya.
Dia membawaku ke balkon, menjauh dari keramaian. Udara malam terasa dingin, menusuk tulang. Sama dinginnya dengan janji-janjinya yang kini berubah menjadi BELATI.
"Mei Lian... aku... aku harus jujur padamu."
Aku mengangkat tangan, menghentikannya. "Aku sudah tahu, Wei. Aku tahu semuanya."
Wajahnya pucat pasi. "Bagaimana...?"
Aku tersenyum, senyum pahit. "Kau meremehkanku, Wei. Kau pikir aku buta? Aku merasakan kebohonganmu. Aku melihat senyum menipumu."
Babak 3: Sentuhan Balas Dendam
Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku menghindar.
"Kumohon, Mei Lian, maafkan aku. Aku… aku tidak bisa hidup tanpamu."
Tidak bisa hidup tanpaku? Setelah semua yang dia lakukan? Setelah dia menghancurkan hatiku menjadi kepingan yang tak terhitung jumlahnya?
"Itu yang kau katakan padanya juga, bukan?" desisku.
Dia terdiam. Pengakuan tanpa kata.
Aku menatapnya dalam-dalam. Tidak ada amarah. Hanya kekosongan.
"Aku tidak akan membalasmu dengan amarah, Wei. Aku tidak akan menyakiti fisikmu. Itu terlalu mudah."
Aku mendekat, berbisik di telinganya. "Aku akan mengambil semua yang kau punya. Perusahaanmu. Reputasimu. Kebahagiaanmu. Aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu karena telah mengkhianatiku. Aku akan membuatmu hidup dengan penyesalan itu, Wei. Itu hukuman yang jauh lebih berat daripada kematian."
Aku berbalik, meninggalkannya sendirian di balkon yang dingin. Aku bisa merasakan tatapannya membara di punggungku. Tapi aku tidak peduli.
Babak 4: Elegi Kesunyian
Di kamar hotelku, aku berdiri di depan cermin. Kutatap luka di dada, bukan luka fisik, tapi luka di hati. Luka yang mungkin tak akan pernah sembuh.
Aku mengangkat tangan, menyentuh dadaku. Aku masih berharap itu tanda cinta. Bodoh, kan?
Aku tersenyum sinis. Cinta yang tulus, dibalas dengan pengkhianatan. Balas dendam yang manis, namun pahit di lidah. Aku telah memenangkan pertempuran, tapi aku kalah dalam perang melawan hatiku sendiri.
Aku memejamkan mata. Semoga dia merasakan apa yang kurasakan.
Epilog:
Di pagi hari, berita tentang kebangkrutan Li Wei dan hilangnya kendali atas perusahaannya menyebar bagai api. Aku membaca berita itu sambil menyesap teh Earl Grey. Tidak ada kegembiraan. Hanya kesunyian.
Aku menatap keluar jendela, ke arah matahari terbit. Indah, namun terasa hampa.
Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama…
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama