**Ia Tak Pernah Menangis Saat Aku Pergi, Tapi Dunia Menangis Bersama** Embun pagi merayapi kelopak mawar di taman kediaman Li. Suara burung pipit yang biasanya riang, hari ini terdengar sendu, seolah berduka. Di antara keindahan yang memilukan itu, berdirilah Wei, seorang pemuda dengan mata setajam belati yang disembunyikan di balik senyum manisnya. "Tuan Muda," sapa pelayan tua dengan suara gemetar, "Nyonya Besar memanggil Anda." Wei mengangguk, langkahnya ringan namun menyimpan badai di dalam hatinya. Nyonya Besar, wanita yang selama ini ia panggil ibu, adalah inti dari kebohongan yang selama ini melingkupi hidupnya. Ia tahu, dalam senyum lembut wanita itu, tersembunyi racun yang perlahan membunuhnya. Kebohongan itu bernama Jiang Lan. Jiang Lan, cinta pertama Wei, hilang tiga tahun lalu. Dikatakan, ia tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Namun, Wei tidak pernah percaya. Perasaannya menolak mentah-mentah penjelasan itu. Ia tahu, Jiang Lan terlalu kuat, terlalu bersemangat untuk menyerah pada takdir sekeji itu. Dan ia benar. Selama tiga tahun, Wei menyamar, menggali setiap sudut kotor kota, menyuap informan, mempertaruhkan nyawanya untuk mencari kebenaran. Ia hidup dalam bayang-bayang, menari di atas bara api amarah yang tak pernah padam. Ia belajar memalsukan senyum, menahan air mata, dan menyembunyikan luka. Ia belajar menjadi kebohongan itu sendiri, demi mengungkap KEBENARAN. Dan akhirnya, ia menemukannya. Nyonya Besar, yang selama ini ia hormati dan sayangi, adalah dalang di balik hilangnya Jiang Lan. Ia merasa terancam oleh pesona dan kepintaran gadis itu, melihatnya sebagai penghalang ambisinya untuk menguasai seluruh keluarga Li. Maka, ia merencanakan "kecelakaan" itu. Dunia Wei runtuh. Di ruang kerja Nyonya Besar, aroma dupa melati menusuk hidung. Wanita itu duduk anggun di kursinya, memandang Wei dengan tatapan lembut. "Wei, anakku. Aku tahu kau merindukan Jiang Lan. Tapi kau harus melepaskannya. Ia tidak akan kembali." Wei tersenyum. Senyum yang membuat darah wanita itu membeku. "Ibu benar. Ia tidak akan kembali. Tapi keadilan akan tiba." Ia menceritakan semua yang ia ketahui. Setiap detail kejahatan wanita itu, setiap nama yang terlibat, setiap bukti yang ia kumpulkan. Ia mengungkap semuanya dengan nada tenang, seolah sedang membacakan puisi. Nyonya Besar terdiam. Wajahnya pucat pasi. Ia tidak menyangkal. Ia tidak membela diri. Ia hanya menatap Wei dengan tatapan kosong. "Mengapa?" tanya Wei lirih. "Karena aku mencintaimu, Wei. Aku ingin kau hanya menjadi milikku." Kata-kata itu bagai pisau yang menancap di jantung Wei. Ia merasakan sakit yang teramat sangat, sakit yang membuatnya ingin berteriak, merobek dadanya sendiri. Tapi ia tidak menangis. Ia tidak menunjukkan emosi apa pun. "Cinta yang seperti itu... adalah kutukan," jawab Wei dengan dingin. Saat itu, para pengawal yang setia kepada Wei memasuki ruangan. Mereka membawa bukti-bukti yang tak terbantahkan, bukti yang akan mengirim Nyonya Besar dan semua kaki tangannya ke penjara, bahkan mungkin ke tiang gantungan. Wei berbalik, meninggalkan wanita itu sendirian di ruang kerjanya. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu, Nyonya Besar tidak akan menangis. Ia terlalu angkuh, terlalu dingin untuk itu. Tapi dunia menangis bersamanya. Beberapa hari kemudian, berita tentang kejatuhan keluarga Li menggemparkan seluruh kota. Semua orang terkejut, tidak percaya. Keluarga Li, yang selama ini dikenal sebagai keluarga yang kaya raya dan berkuasa, tiba-tiba runtuh seperti rumah kartu. Wei menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi. Beberapa mengatakan ia pergi ke pengasingan, mencari kedamaian setelah badai yang menghancurkan. Yang lain mengatakan ia terus mengawasi, memastikan bahwa keadilan benar-benar ditegakkan. Ia tidak pernah menangis saat Jiang Lan pergi. Ia tidak pernah menangis saat mengungkap kebohongan ibunya. Ia tidak pernah menangis saat menghancurkan keluarganya sendiri. Tapi senyumnya... senyum terakhirnya itu... terasa seperti *perpisahan abadi*. Di sebuah desa terpencil, di tepi sungai yang tenang, seorang pria duduk di bawah pohon willow. Ia menatap langit yang membiru, senyum tipis menghiasi wajahnya. Di tangannya, ia memegang sebuah kalung berliontin *bunga mawar*. Apakah ia akhirnya menemukan kedamaian, ataukah ia hanya sedang mempersiapkan balas dendam yang lebih dahsyat?
You Might Also Like: 122 Rekomendasi Moisturizer Lokal Cocok
Share on Facebook